fbpx

Studi Kasus #2 : Puluhan Juta Sumber Pendapatan Lain Dari Hobi Fotografi

Seorang fotografer bisa punya sumber pendapatan lain selain dari jasa fotografi. Salah satunya adalah dengan berjualan skill fotografi atau skill mengelola bisnis fotografi itu sendiri. 

Setidaknya itulah yang dilakukan oleh Erlangga Muhammad setahun terakhir. Beliau yang juga owner dari Thepotomoto membuat kelas privat. Kelas ini selalu sold out di setiap batch nya. Bahkan di beberapa batch beliau sampai harus menolak beberapa calon pesertanya.

Apa latar belakang beliau membuat kelas privat ini, bagaimana menjalankannya dan kenapa beliau bisa sampai menolak calon pesertanya akan kita bahas di Studi Kasus Utas berikut ini. 

Siapa Erlangga Muhammad? 

Kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. Maka sebelum jauh membahas studi kasus, Kita kenalan dulu dengan narasumber kali ini. 

Beliau adalah Erlangga Muhammad. Di bio Instagramnya @erlangga.muhammad, beliau menuliskan Business Accelerator |⁣⁣⁣⁣ Digital Strategies⁣ | Motorcycle Enthusiast. Dari wawancara yang kami lakukan, ternyata ada maksud dari bio tersebut. 

Selain itu beliau adalah Owner dari Thepotomoto, sebuah jasa fotografi yang punya nama dan reputasi bagus di Jakarta maupun berbagai kota di Indonesia . Pengusaha, pejabat bahkan artis pun menggunakan jasa fotografinya. 

Jika Anda mengikuti Cut Meyriska di Instagram, pada momen ulang tahunnya baru-baru ini, Anda akan menemukan credit Thepotomoto di sana. 

Bagaimana Erlangga Muhammad Mengawali Bisnisnya? 

Sebelum menjadi seorang Business Accelerator seperti saat ini, Erlangga pernah bekerja di bidang perhotelan dan IT. Kemudian karena suka motret, beliau mendalami teknik fotografi sampai tingkat tertentu sambil menjalankan bisnis fotografinya. 

Seiring berjalannya waktu, karya fotografi beliau sudah merambah di kancah nasional maupun internasional. Dalam kurun waktu 2014 hingga 2016 Erlangga Muhammad mengikuti award international dan mengikuti keanggotaan komunitas wedding fotografer international yang diselenggarakan oleh Fearless Community.

Walaupun tidak memenangkan penghargaannya, dari situ Erlangga maupun Thepotomoto mulai dikenal dan diperhitungkan dalam industri wedding photography. 

Setelahnya bisnis fotografinya berkembang dengan pesat. Bahkan di tahun 2011, dimana vendor fotografi pernikahan belum masuk ke ranah digital, beliau sudah menerapkan strategi digital. Baik untuk marketingnya maupun hasil fotografinya. 

Jika vendor yang lain butuh beberapa hari untuk melihat hasilnya, Thepotomoto hanya perlu 1 hari saja. Karena pada saat itu belum banyak vendor yang memanfaatkan digital maka hal ini menjadi keuntungan tersendiri bagi Thepotomoto. 

Dari Fotografer Jadi Bisnis Owner Hingga Business Accelerator

Setelah menguasai berbagai teknik fotografi, mempunyai tim dan membangun bisnis Thepotomoto, Erlangga merasa harus menemukan batas ‘cukup’ untuk mendalami bidang fotografi yang trennya bergerak sangat cepat, maka Erlangga memilih untuk mendalami ilmu bisnis untuk membantu mengembangkan usahanya.

Dengan bekal ilmu bisnis yang juga beliau miliki pada akhirnya Erlangga memutuskan untuk fokus ke pengembangan bisnis dan untuk teknis fotografinya didelegasikan ke timnya di Thepotomoto. 

Setelah memutuskan menjadi bisnis owner ini banyak tawaran untuk mengisi seminar dan workshop bisnis fotografis di sana-sini. Dari sini ada banyak orang terutama para fotografer yang kemudian terbantu dengan sharing pengalaman yang beliau berikan.

Tidak hanya sampai di situ, selama menjalankan bisnis fotografi lebih dari 10 tahun ada formula bisnis yang beliau temukan. Ketika menjalankan formula ini maka bisnis fotografi yang semula jalan ditempat atau pertumbuhannya lambat bisa tumbuh dengan pesat dan cepat. Formula ini sudah teruji dan terbukti mampu melejitkan bisnis fotografi dari orang-orang yang berguru pada beliau. 

Dari sinilah beliau disebut sebagai seorang bisnis accelerator yang kemudian formula bisnis ini beliau ajarkan di kelas privat yang bernama Wedding Photography Business Hack. 

Wedding Photography Business Hack

Selain menjalankan bisnis utamanya Thepotomoto, Erlangga juga punya bisnis sampingan yang bernama Wedding Photography Business Hack. Ini merupakan sebuah kelas privat yang beliau buat untuk memfasilitasi orang-orang yang ingin belajar bisnis fotografi secara mendalam. 

Mengingat ada keterbatasan waktu pada seminar atau workshop di berbagai daerah, sehingga tidak bisa optimal dalam menyampaikan materi secara mendalam, maka kelas ini adalah lanjutan dari seminar dan workshop tersebut. 

Dimulai pada awal tahun 2022 dan kini sudah berjalan hingga 6 batch. Kelas privat ini seperti manual book versi Erlangga Muhammad dalam menjalankan bisnis Thepotomoto yang sudah jalan lebih lebih dari 10 tahun.

Dengan mengikuti kelas ini harapannya peserta bisa stay on the track dan tidak terjebak dengan kondisi perang harga. Selain itu peserta bisa mengetahui apa saja tantangan di bisnis fotografi selama 5 tahun ke depan beserta solusinya yang sudah teruji dan terbukti efektivitasnya. 

Hal-Hal Unik Tentang Wedding Photography Business Hack

Dari wawancara yang kami lakukan, ada hal unik dari kelas ini yang bisa kita ambil pelajaran. 

  1. Kelas ini tergolong kelas premium dengan harga Rp 4.999.000 per peserta. Hanya menerima 3-7 peserta dan selalu sold out dalam waktu singkat. Bahkan di beberapa batch ada yang langsung sold out kurang dari 24 jam sejak diumumkan. 
  2. Terdapat sesi wawancara untuk penentuan diterima atau tidaknya di kelas ini. Calon peserta yang berminat dan sudah melakukan pembayaran, namun dinyatakan tidak lolos, maka dana nya akan dikembalikan. 
  3. Dalam mempromosikan kelas ini Erlangga Muhammad tidak pernah menggunakan iklan berbayar. Semuanya murni secara organik melalui Instagram dan channel lain yang beliau miliki. Juga dalam menentukan batch tidak tentu waktunya, sehingga membuat penasaran calon peserta. 
  4. Walaupun di Instagram beliau banyak konten tentang otomotif, dan sedikit membahas tentang fotografi, tetapi banyak followersnya merupakan fotografer atau orang-orang yang bisnisnya di bidang fotografi. Personal brandingnya kuat di komunitas fotografer di seluruh Indonesia. 
  5. Kelas ini dijual menggunakan Utas dengan tipe produk digital. Uniknya, kelasnya dilakukan secara tatap muka (offline). Untuk konten digital yang dikirimkan pembeli berupa ebook (PDF) yang merupakan modul dari kelas ini. 

Pesan Erlangga Muhammad Untuk Fotografer Pemula Yang Ingin Punya Bisnis Sampingan

Terkait bisnis sampingan, Apapun bisnis tidak masalah, karena tidak akan jauh-jauh dari dunia fotografi. Yang lebih penting adalah bagaimana komunikasinya dengan klien. 

Sebagai penutup dari case study ini Erlangga berpesan untuk para fotografer terutama yang masih berusia 20 an tahun untuk selalu menjaga komunikasi dan behaviour yang baik dengan para klien. 

Terkadang para fotografer ini mengejar mati-matian nominal yang tidak seberapa. Karena memang bisnis fotografi itu butuh modal yang tidak sedikit. 

Namun ternyata banyak yang lupa kalau klien itu tidak hanya pengantinnya saja. Ada orang tua, saudara dan juga kerabat dan pengantin yang juga harus kita perlakukan dengan baik. Dengan begitu akan memunculkan kedekatan antara klien dengan fotografer. 

Bersikap dan berkomunikasi yang baik dengan para klien adalah sesuatu yang wajib dan seharusnya menjadi modal utama dalam bisnis fotografi. 

Ketika suatu saat hasil fotografinya biasa saja, tetapi komunikasi kita baik dan respon mereka juga bagus, setidaknya mereka bisa menerima hasilnya. 

Namun jika dari awal komunikasinya sudah jelek, klien merasa tersinggung dan yang paling parah ada konflik dengan klien di lapangan, sebagus apapun hasil fotonya, klien akan dengan setengah hati menerimanya. 

Jadi sebagus apapun skill fotografi kita, harus selalu dibarengi dengan skill komunikasi yang bagus pula. 

Kesimpulan 

Dari studi kasus ini setidaknya ada beberapa hal yang bisa kita simpulkan : 

  1. Tren di dunia fotografi sangat cepat berubah. Saat memutuskan menjadi bisnis owner harus berani belajar dan memperdalam ilmu bisnis ketimbang memperdalam ilmu fotografinya.
  2. Selain di media sosial, bergabung di komunitas itu juga cara yang bagus untuk membangun personal branding dan menjalin relasi. Banyak klien yang datang justru berasal dari komunitas. 
  3. Dalam membuat produk digital berupa kelas privat dengan Utas, ternyata bisa dilakukan secara offline dan online. Secara online digunakan untuk menerima pembayaran dan mengirimkan modul. Sedangkan offline nya untuk tatap muka kelasnya. 
  4. Hard skill itu penting tapi juga harus dibarengi dengan communication skill supaya klien merasa nyaman dan terbangun engagement yang bagus. 

Itulah studi kasus kali ini. Bagi Anda para fotografer yang ingin mendapatkan pendapat lain dari memotret, Anda bisa menjual perangkat yang berkaitan dengan fotografi atau bisa juga dengan membuat kelas seperti halnya Erlangga Muhammad. 

Apapun bisnisnya Anda bisa menggunakan Utas untuk menerima pembayaran dan mengirimkan konten Anda secara otomatis. 

Mudah-mudahan memberikan wawasan baru untuk Anda. Sampai bertemu di studi kasus berikutnya. 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *