Contoh Strategi Penjualan Pada Produk Makanan di Fruity Juice

Pada artikel ini Saya akan membahas tentang penerapan contoh strategi penjualan produk makanan & minuman yang bisa Anda tiru atau modifikasi.

Ceritanya di suatu siang, ketika badan mulai merasa lelah karena kecapean, Saya mengampiri sebuah outlet jus di salah satu mall kota Bandung, namanya: Fruity Juice.

Saat berdiri di depan outlet sambil lihat-lihat menu jusnya, SPG nya langsung nyamber, “Siang kak… Mau yang enak atau yang seger?“.

Spontan Saya langsung berhenti membaca tulisan sembari menjawab pertanyaan SPG, “Yang seger aja deh mba, capek nih….”

Mendengar pesanan Saya, SPG tersebut langsung bilang, “Oh kalau yang seger ada Vit-C Booster, kak… Mau?“.

Karena udah direkomendasikan, yaudah… Saya bilang, “Yaudah, itu ajah…

1 menit berlalu. Jus yang Saya inginkan langsung dia buat tanpa berlama-lama.

Suara blendernya kenceng banget, sambil Saya nyari2 daftar menu jus berapa sih harga Vit-C Booster.

Dan ketemulah nama “Vit-C Booster“. Tebak, berapa harganya?

Ya, bener, harganya Rp28.000. DHUARRR…!!!

Heloooooww…. Jus doang Rp28 ribu. Padahal paling biasanya cuma 5-10 ribu doang.

Apa pelajarannya buat bisnis Anda dari contoh Strategi penjualan ini?

Sadar nggak sadar, semuanya terpola….

Ini bermula dari ketika Saya datang menghampiri outlet jus tersebut, dan SPG dengan script tertentu menyapa calon konsumen sambil bertanya. “Siang kak.. Mau yang enak atau yang seger?’

Perhatikan susunan kalimatnya —-> “Mau yang enak atau yang seger?”. 😊

Ini adalah pertanyaan pilihan yang jawabannya pasti “ya”.

Ada 1 kata yang hilang, yaitu “beli”.

Sejatinya, kalimat aslinya adalah: “Mau beli yang enak atau yang seger?”.

Tapi dihilangkanpun kata “beli” nya, orang langsung dalam pikirannya diarahkan untuk memilih salah satu.

Ini merupakan trik closing dalam contoh strategi penjualan.

Sama seperti ketika Anda mau closingin calon buyer lewat BBM/WA/Chat FB.

Banyak orang menggunakan script yang salah salah closing dan follow up, misalnya: “Mba, gimana, jadi beli jilbabnya enggak?“.

Jawab: ENGGAK!.

Ya iya lah, nanyanya salah… hehe

Sebaiknya gunakan pertanyaan pilihan, misal:

  • “Mba, pembayarannya mau transfer ke BCA atau Mandiri?”
  • “Mau dikirim lewat TIKI atau JNE?”,
  • “Mau dianter atau diambil sendiri?”,
  • “Mau warna hitam atau putih?”,
  • “Mau beli 1 atau 2?”,
  • dll.

Poinnya: gunakan pertanyaan piilihan yang jawabannya pasti “iya” ketika ada orang yang mulai tertarik dengan produk Anda.

Lanjut…

Kedua, setelah Saya bilang, “yang seger aja deh…“, si SPG langsung up sell menawarkan produk termahal di tempat jus itu, namanya Vit-C Booster. Dan ingat, karena proses penjualan bersifat impulse (tiba-tiba), karena nggak mau lama-lama ambil keputusan, langsung aja lidah ini bilang, “Iya deh, itu aja…”.

Hm, kena….

Bayangin, kalau SPG gak nawarin produk termahalnya dan merekomendasikan calon konsumen, mungkin omsetnya gak akan naik sejauh itu:

  • dari Rp10 ribu (harga jus biasa)
  • jadi Rp28 ribu (harga vit-c boostet)
  • artinya, naik Rp18 ribu setiap transaksi.

Kebayang kalau Anda piawai menggunakan script penjualan di setiap transaksinya… Berapa banyak kenaikan omset yang Anda alami setiap harinya?

Contoh strategi penjualan yang lainnya.

J.CO misalnya. Coba sesekali Anda main J.CO, iseng2 beli donat yang isinya 6 biji (setengah lusin). SPG nya pasti langsung up sell, “Kak, gak sekalian yang J-Pop aja. Cuma nambah 8 ribu, udah dapat semua rasa?”.

Proses itu terjadi begitu cepat. Kita yang udah ngerti pola ini, mungkin langsung bilang, “Enggak, mba… 8 ribu lumayan buat parkir. hehe”.

Tapi berapa banyak calon konsumen tiba2 kepikiran untuk mengubah pilihannya dan membeli produk J-Pop, karena gara2 si SPG nawarin produk itu.

Bayangin, dengan contoh strategi penjualan ini, setiap yang hadir, di up sell ke J-Pop.

Artinya, kalau ada 100 orang pengunjung, dan 50% nya saja kena, artinya omsetnya naik:

  • dari Rp37 ribu (harga donat setengah lusin),
  • jadi 45 ribu (harga J-Pop) x jumlah 50 orang.
  • Wow… hehe

Balik lagi ke Jus…

Gak berhenti sama disana, saat SPG nya nyerahin jus nya ke kita, sambil tersenyum, dia bilang, “Ini kak. Sehat selalu ya kak…

Tujuannya apa?

Tentu untuk menunjukkan bahwa pelayanan dan servicenya ramah dan memuaskan. Sehingga next, kalau mau beli jus lagi, kesini aja deh…

Pelayanannya ramah. Dengan catatan, jusnya juga emang enak.

Jadi, walaupun bayar Rp28 ribu, tapi rasanya emang enak dan seger plus pelayanannya ramah, gak masalah keluar duit segitu juga…

Nah, ini mirip ketika Anda jualan produk Anda sendiri. Kalau dalam proses pelayanannnya jelek, gak memuaskan, kemungkinan orang2 kapok beli dan bertransaksi dengan Anda.

Ingat, pelayanan yang ramah dan memuaskan bakal membuat mereka (pembeli produk Anda) repeat order (membeli produk Anda lagi) bahkan mereferensikan produk Anda ke teman2nya. Karenanya, ini sangat penting.

So, kalau disimpulan, ada 3 pelajaran yang bisa kita ambil dari strategi penjualan Fruity Juice ini:

  1. Ajukan Pertanyaan Pilihan, agar benar2 closing
  2. Tawarkan Produk Termahal, agar langsung up sell
  3. Berikan Senyuman dan Sapaan yang ramah, agar repeat order

Pertanyaanya, bagaimana dengan bisnis Anda?

Itulah contoh strategi penjualan dari pengalaman Saya membeli segelas jus. Yuk mulai susun strategi barunya, supaya omsetnya juga bisa naik secara signifikan, walaupun tanpa biaya tambahan….

Share ya… Semoga menginspirasi banyak orang.

Baca juga : Mau Bisnis Camilan, Apa Yang Mesti Diperhatikan?

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *