Micro Influencer Menghasilkan Lebih Banyak Penjualan, Benarkah?

Saat ini banyak penjual di media sosial memanfaatkan micro influencer untuk mempromosikan produk jualannya. 

Tujuannya, selain mendapatkan lebih banyak jangkauan secara organik (baca : awareness), dengan memanfaatkan micro influencer, para penjual ini juga mengharapkan sales yang lebih banyak. 

Namun pertanyaannya, apakah dengan micro influencer ini bisa benar-benar meningkatkan angka penjualan? Kenapa lebih memilih memilih micro influencer daripada macro influencer?

2 hal itulah yang akan kita bahas pada artikel ini. Siapa tahu Anda berencana menggunakan layanan micro influencer dan setelah membaca ini Anda bisa mendapatkan sudut pandang yang lainnya. 

Apa itu micro influencer?

Influencer sering didefinisikan sebagai orang atau akun yang punya pengaruh di media sosial. Apa yang mereka ucapkan, apa yang mereka posting selalu bisa menginspirasi dan menggerakkan followernya dan orang lain.

Sedangkan micro influencer itu adalah influencer dengan jumlah follower yang sedikit. Jumlahnya sekitar 1.000 sampai 100.000 followers saja. Lebih dari itu sudah masuk dalam kategori macro influencer dan mega influencer.

Mengapa penjual di medsos lebih memilih micro influencer? 

Biarpun micro influencer punya followers yang sedikit jumlahnya, tetapi dari sisi engagement mereka tidak kalah dengan macro influencer atau mega influencer. Bahkan bisa dibilang jangkauan dan engagement micro influencer itu lebih baik daripada yang jumlah followersnya lebih banyak. 

Atas dasar itulah maka micro influencer lebih dipilih oleh brand atau para penjual di media sosial. 

Tidak hanya itu, dari sisi harga pun, micro influencer menawarkan tarif endorse yang relatif lebih murah daripada macro influencer atau mega influencer. 

Kalau dari sisi penjualan bagaimana? 

Sekarang kalau dilihat dari sisi penjualan bagaimana? apakah dengan endorse ke micro influencer bisa meningkat penjualan? 

Mengutip dari Forbes, “82% konsumen ‘sangat mungkin’ untuk mengikuti rekomendasi yang dibuat oleh mikro-influencer.” 

Tidak hanya itu, dari Adweek, mereka mengatakan “tingkat campaign engagement 60% lebih tinggi didorong oleh micro-influencer. Campaign tersebut 6,7 kali lebih efisien daripada macro influencer, sehingga membuatnya lebih hemat biaya. Dan micro influencer mendorong percakapan mingguan 22,2 kali lebih banyak daripada rata-rata konsumen.

Hal senada juga disampaikan berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Park, J., Lee, J. M., Xiong, V. Y., Septianto, F., & Seo, Y dengan judul David and Goliath: When and Why Micro-Influencers Are More Persuasive Than Mega-Influencers. Journal of Advertising.

Dari penelitian tersebut mereka kemudian mendapatkan kesimpulan bahwa :

micro influencer akan lebih efektif dalam meningkatkan penjualan produk Anda daripada mega-influencer jika produk yang Anda jual itu adalah produk-produk hedonis seperti produk fashion, gadget kelas atas, hotel premium dan juga restoran. 

Tetapi jika produk yang Anda juga bukan produk non hedonis seperti alat dapur murah, hotel melati maka micro influencer tidak akan berdampak besar pada penjualan Anda. 

Namun jika tujuan dari campaign Anda adalah awareness bukan sales, maka sebaiknya Anda menggunakan jasa dari macro influencer. 

Leave a Comment

Your email address will not be published.